Cika bakal keturunan
Makanan yang haram tidak
mengandung berkah, dan berdampak malas serta berat untuk melakukkan ibadah.
Maka, selektiflahh dalam memilih makanan. Allah berfirman “dan
makanlah(makanan) yang halal lagi baik dari rizqi yang telah Allah anugrahkan
kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah, yang kamu sekalian beriman kepada-Nya”
– QS Al-Ma’idah (5): 88.
Kata halal berasal dari bahasa
Arab yang berakar kata halla, artinya lepas atau tidak terikat. Yakni, boleh
dillakukkan karena bebas atau tidak terikat dengan ketentuan-ketentuan hokum
yang melalarangny. Adapun halal dalam konteks makanan dan minuman adalah boleh
di konsumsi, diproduksi dan dikomersialisasikan.
Kata “yang baik”, thayyib,
memiliki arti lezat, baik, bersih dan paling utama. Adapun kaitannya dengan
makanan atau minuman yakni makanan atau minuman yang tidak kotor dari segi
dzatnya atau tidak rusak karenan kadaluarsa, misalnya. Makanan yang thayyib pun
dapat diartikan makanan yang thayyib pun dapat diartikan makanan yang
proporsional yakni, makanan yang sesuai dengan kapasitas fisik, kadar gizi dan
wakru saat makan. Allah berfirman “Wahai manusia! Makanlah yang halal lagi baik
(halalan thayyiban) dari apa yang terdapat di muka bumi dan jangganlah
mengikuti langkah-langkah setan, karena sesuungguhnya setan itu adalah musuh
yang nyata baggi kamu sekalian.” – QS Al-Baqarah (2); 168. Dalam konteks
makanan atau minuman, langkah-langkah setan bermakna tergesa-gesa, rakus, suka
kepada yang najis atau haram dan sifat-sifat jelek lainnya.
Salah satu keberkahan yang di
dapat dari makanan, kita dalam kondisi sehat, sehingga dapat melaksanakan semua
yang menjadi tuga dan kewajiaban kita, yaitu beribadah kepada Allah dalam
segala bidang kehidupan.
Makanan yang dikonsumsi juga akan
menjadi nuthfah, saripati, yang selanjutnya menjadi mudhghah dan alaqah, cikal
bakal keturunan manusia. Itulah, menjaga keturunan yang baik dimuali dari
menjaga makanan atau minuman, yakni halalan thayyiban.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar